Rabu, 24 Juli 2013

CERPEN

SIBUNGSU
Chronik-Fotos | via Facebook
Kisah ini kisah seorang anak perempuan yg dilahirkan dikeluarga sederhana. Dia merupakan seorang siswi SMP X kelas 2. Ayah dan ibunya bekerja sebagai PNS. Ia merupakan anak ke-4 dari 4 bersaudara dan ia sangat senang dipanggil dengan sebutan anak bungsu. Dia memiliki 2 orang kakak lelaki yang bernama dodi dan yogi dan satu lagi kakak perempuannya yang bernama muthia.
Hidupnya terbilang bahagia karena tentunya sebagai anak bungsu dialah yang selalu dimaja oleh kedua orangtuanya. Terlebih ayahnya, dia sangat dan sangat menyayangi anaknya ini, namun tidak terlalu begitu terhadap ibunya, karena ibunya lebih nampak perhatian kepada kakak sibungsu yaitu kak muthia. Namun itu ridak menjadi masalah kepada sibungsu yg biasa dipanggil ica oleh seluruh anggota keluarganya, karena menurutnya mendapatkan kasih sayang sang ayah saja sudah bahagianya lebih dari cukup.
Ia idak pernah takut kehilangan kasih sayang ayahnya dari kecil hingga dia SD. Walaupun satu sekolah dengan ibunya yg berprofesi sebagai guru juga disekolahnya saja ayahnya tetap selalu mengantar dan menjemputnya, padahal hal itu dapat dilakukan oleh sang ibu saja. Tidak jauh berbeda juga saat dia SMP. Ayah selalu melakukan hal yang sama yaitu mengantar, menjemputnya disekolah, bila terjadi masalah ayah juga yang selalu datang kesekolah dan mengambil raforpun tetap sang ayah.
Suatu ketika tepatnya pada bulan ramadhan saat dia masih kelas 2 SMP, ibunya mengatakan sesuatu hal yang seharusnya tidak ingin dia dengar. Saat itu sibungsu dan kakaknya muthia sedang membantu sang ibu membuat kue lebaran. “mama sebenarnya sekarang dilarang untuk membuat kue dulu, tapi kalian selalu ingin melakukannya” kata sang ibu. “kenapa gitu ma? Membuat kue ini kan juga bisa nambah-nambah penghasilan kita ma” kata kak muthia. “iya kata dokter mama gak boleh duduk lama-lama kayak gini, bisa berbahaya. Mama kan sedang hamil adik baru kalian” kata ibu menjawab. Terjadi keheningan sesaat saat itu, sibungsu dan kakaknya muthia tidak bisa berkata apa apa. Nampaknya mereka benar-benar terkejut mendengar jawaban dari sang ibu. Tidak heranlah, mungkin mereka berfikir kenapa sang ibu hamil lagi? Bukankah itu akan membahayakan dirinya karena umurnya terbilang sudah akan memasuki usia tua. Namun tidak dengan fikiran sibungsu. Ia memang saat itu tidak dapat berkata apapun namun didalam hati dan fikirannya dia muncul satu demi satu pertanyaan yang mungkin tidak dapat ia temukan jawabannya. “sudah setua ini mempunyai anak lagi? Anak saja sudah 4 begini, mau ditambah satu lagi jadi 5? Bukankah itu memalukan? Kalau sampai teman-temanku tahu semua ini bagaimana? Apa yang harus aku isi dibiodataku nanti? Anak ke 4 dari 5 bersaudara? Apaa begitu? Belum lagi jarak umur aku daan anak itu nanti! 13 tahun? Sempurna sekali hidupku menurut mereka ha? Aku tidak mau pokoknya TITIK!!!” omelan sibungsu dalam hati. Ia tidak sanggup mengatakan semuanya kepada orangtuanya, karena dia juga berfikir itu bukanlah hak dia. Tapi dia tetap tidak bisa menerimanya. Sudah berulang kali dia fikirkan bahkan ribuan kali tapi tetap 2 pernyataan yang dapat disimpulkan dari semua pertanyaan dia yaitu MALU dan TAKUT KEHILANGAN KASIH SAYANG ORANGTUANYA!
Semenjak hari itu, ia merasa aneh dalam keluarganya itu. Satu per satu semua keluarga sudah hampir tahu akan kehamilan sang ibu. Dia semakin lama semakin marah, tidak terima dengan semua keadaan ini. Melihat abang-abang dan kakak nya yang begitu perhatian kepada sang ibu juga terlebih sang ayah. Semenjak saat itu ia merasakan dunia ini semakin tidak adil dengan dirinya. Sibungsu marah dan marah, ia tidak pernah dan sama sekali tidak ingin memperhatikan ibunya lagi. Tidak pernah ada rasa peduli kepada sang ibu lagi.
Hari demi hari berlalu begitu saja, tentunya perut sang ibu semakin lama semakin membesar. Ia merasa malu dengan semua itu. Bahkan satupun dari teman-temannya disekolah tidak ada yang tahu tentang adik barunya itu. Dia selalu menyembunyikannya, hingga tidak ada satupun dari teman-temannya lagi yang dibolehkan bermain kerumah. Ketidak pedulian terhadap ibunya pun mungkin semakin nampak oleh semua orang terlebih sanak saudaranya. Karena apa? Karena setiap kali ibunya meminta tolong, dia selalu membantahnya dan mengelak. Ibunya pun mungkin dapat merasakan hal itu sehingga ibu juga tidak terlalu sering meminta bantuannya karena mungkin juga takut anaknya ini menjadi anak durhaka. Sanak saudaranya pun satu persatu mulai mencoba menasehatinya dan salah satunya adik dari mamanya yaitu tek liza berkata pada sibungsu “ica kenapa kayak gini? Ica mau durhaka sama mama ica? Ica gak takut dosa? Ica tu udah besar, dan harusnya ica bisa bantu-bantu mama yang sekarang ini lagi hamil, bukannya malah gak peduli sama mama ica”. “suka-suka ica lah. Emang salah ya kalau ica gak mau punya adik lagi tek?” balas sibungsu bertanya. “gak salah ca, tapi mau diapain lagi sekarang. Semuanya kan udah kejadian. Waktu kan gak bisa diulang. Emang salah ya mama ica pengen punya anak lagi?” kata tek liza bertanya. “etek mau tau salah mama dimana kan? Salah mama, kenapa mama itu gak ngomong dulu kalau dia mau punya anak lagi? Etek kira ica gak kaet kalau tau mama hamil lagi? Etek tau gak berapa jarak umur ica sama anak itu? Etek juga tau gak mama ica itu udah punya anak keberapa? ica malu tek, MALU! Mereka ga pernah kan mikirin perasaan ica? Apa yang mesti ica bilang ke orang-orang, etek gatau kan? Yaudahlah etek kan gak tau apa-apa soal ini, jadi gausah deh sok-sok mau nasehatin ica. Ica tau kok apa yang ica lakuin. Jangan anggap ica ni anak kecil lagi!” kata sibungsu berkata tanpa henti. Mungkin tampaknya semua sanak saudaranya menyerah dengan sibungsu, mereka tidak terlalu mementingkan sibungsu yang tidak karuan itu lagi. Semua orang hanya banyak diam bila didekat sibungsu. Sibungsu pun tidak mempermasalahkan hal itu, karna menurutnya akan ada hal penting lagi yang menjadi masalah besarnya! Ya.. calon adiknya! Tampaknya dalam dirinya telah tumbuh rasa benci dan rasa iri pada calon adiknya itu. Ia juga benci saat ayah, ibu dan kakak-kakanya membicarakan tentang nama untuk sang bayi. “anaknya perempuan” itulah kata dokter. Sempat sepintas sibungsu juga memikirkan tentang calon adik perempuannya itu, ia ingin bermain juga bersamanya, memberikan nama, menjaganya, dan ingin si adik cantik bersih. Namun semua itu tidak ada artinya lagi pikir sibungsu bila ayah dan ibunya juga saudara-saudaranya akan lebih menyayangi siadik. Ia takut.. takut sekali.. . hari demi hari pun berlalu begitu cepa dan tanpa terasa siibu sekarang telah berada dirumah sakit untuk bersalin. Sayangnya ibu tidak bisa melahirkan normal, itu memang siibu telah mengetahuinya dari awal karena umurnya yang tidak memungkinkan. Satu hari berada dirumah sakit ibu baru melaksanakan operasi, ini kali pertama ibu operasi, karna anak sebelum-sebelumnya dilahirkan secara normal termasuk sibungsu. Sibungsu sama sekali tidak ingn menengok ibu dirumah sakit, ia hanya mendengar kabar saja bahwa ibu telah berhasil melahirkan adiknya yang ternyata adalah laki-laki, sama sekali tidak menyenangkan dan tdak pula menyedihkan. Ia hanya berfikir “baguslah ibu dan anak itu selama” lalu tersenyum datar.
Sehari... dua hari... dan tiga hari..
Tiga hari sudah ibu dirumah sakit, dan ica sama sekali tidak pernah menengok ibunya. Satu demisatu pun sanak saudara menyuruhnya datang melihat keadaan ibunya yang telah sedih melihat anak bungsunya itu sama sekali tidak mempedulikan dia. Dari abang-abangnya, kakaknya, juga bahkan ayahnya telah menyuruhnya menengok ibu. Namun dia tetap berrsikeras tidak bisa sebab alasannya tidak akan ada yang menjaga rumah bila dia pergi. Dan di hari keempatlah baru sikakak paling tua yaitu bang dodi sangat marah dan menghardik sibungsu itu, dan mengantarkannya kerumah sakit dengan paksa. Tidak ada yang dapat diperbuat sibungsu kecuali hanya pasrah dan mengikuti kata abangnya itu. Akhirnya ia bertemu dengan ibu, namun percuma juga karna dia sama sekali tidak peduli dan hanya melihat ibbinya sejenak, namun sayangnya saat iu dia tidak dapat melihat siadik sebab siadik telah dibawa suster untuk tidur dirunag bayi. Cukup, akhirnya sibungsu pulang bersama abangnya.
Ternyata hari berikutnya si ibu telah diperbolehkan pulang. Ibu pulang dengan membawa adik sibungsu itu. Tetap saja, sibungsu tidak peduli.
Tiga bulan berlalu ketidakpedulian sibungsu terhadap keluarganya. Si ibu yang seorang guru pun harus kembali pada rutinitasnya seperti biasa untuk mengajar. Mau tidak mau, si adik harus dititipkan pada neneknya. Sehari.. duahari.. sibungsu hanya melihat bagaimana neneknya merawat adik tersebut. Mungkin juga karena kasihan melihat sinenek yang letih, sibungsu diam-diam mulai membantu nenek dan merawat adiknya itu. Tidak banyak yang dapat dibantunya, namun lama kelamaan dia tidak dapat lagi untuk tidak peduli kepada adiknya itu, dia bahkan tidak bisa seharipun tidak melihat adiknya.
1 bulan berlalu.. dia sekarang malah sangat menyayangi adiknya itu, namanya daffa. Sibungsu bahkan rela pulang sekolah langsung pulang kerumah demi menjaga adiknya itu. Dan hari demi hari juga sibungsu pun rela memberikan gelas “sibungsu”nya itu kepada adik tersayangnya. Sempat ia berfikir kenapa dulu ia begitu membenci ibu dan adiknya ini? Padahal mereka adalah harta paling berharganya. Ibu? Semua orang juga tau kenapa dia sangat berharga. Namun adik menurutnya adalah malaikat hidupnya. Kecil dan tak berdosa, jadi apa alasan yang membuat dia harus membenci si adik? Alasan yang tidak logis adalah yaitu dia malu, dan alasan yang logis adalah dia takut kehilangan kasih sayang keluarganya. Wajar saja, bagaimana tidak.. jangankan keluarganya, dia saja sekarang ini rela mati demi adiknya, betapa rasa sayang nya kepada siadik itu? Pastinya sangat besar. Rela mati saja dia mau, apalagi rela diambil kasih sayang ayah dan ibu, dan rela memberikan gelar “sibungsu” pada sang adik.. itu adalah hal yang kecil yang akan dia lakukan. Karena inilah hidup.


TAMAT:) 

1 komentar:

ridwan mengatakan...

kisah hidup bana ma

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com